"kalian dimana?" gue melenggang santai di tengah luasnya Mall Senayan City.
"Di Food Court Cum, depan KFC" jawab
Ninit.
Pas banget gue penasaran puding KFC.
"Cumi!" panggil Ninit seraya menggerakan tangannya.
"Hey" gue mendekati langsung cipika-cipiki. Lalu gue melihat
Ridu,
Arif, dan
korban anak baru disebelahnya. Gue menyalami mereka satu persatu. "
Bena, Ridu, sama
Presyl mana?"
Udah tiga minggu kita jalan bareng. Minggu pertama: bagi-bagi bendera, minggu ke-2: cari panti asuhan, minggu ke-3: yang seharusnya buka puasa bersama anak-anak yatim-piatu, tapi jadinya adalah hari ini. Entah mereka sadar atau tidak, tapi gue sadar, kalau bersama mereka gue merasa waktu terasa cepat.


Bena dateng bersama Ridu saja.
"Presyl mana?" gue masih dengan pertanyaan yang sama.
"Gak tau tadi tiba-tiba gak bisa." bales Bena.
Tangan gue mengirim pesan singkat ke Presyl. Ngetiknya singkat, cepat, dan tepat. Loading ngirimnya
. . .
. . .
. . .
sent! Terhitung 1 jam 23 menit 54 detik. Akhirnya terkirim, baru bernapas lega. Presyl bales sms mengatakan permohonan maaf dan alasan yang bisa kami terima. Ditutup dengan pertanyaan
siapa aja rik yang dateng?Gue mulai ngeluarin stop watch.
Kita mulai perjalanan hari itu dengan buka bersama. Gue akhirnya tau si anak baru itu namanya
Bimo. Dia bawa SLR yang terlihat seperti Berlian. Berkilau, cantik..mahal. okeh itu hanya di sudut pandang gue. Setelah semua berkesempatan buat mencoba foto dengan kamera anggun itu, kita lanjut tempat persinggahan ke Plasa Semanggi. Tebak untuk apa? Untuk karaoke di Inul Vista saja gitu loch. Namun nasib tak dapat ditolak, Untung tetangga gue. Inulnnya penuh.
Well, bagian yang menurut gue lucu adalah saat. . .
di Lift.
Ting!
Lift membuka menampakan 3 orang cina di dalemnya. 2 mba-mba, 1 mas.
Ninit, melengos masuk duluan disusul kita. Waktu dia balik badan,
"KYAAA! ADUHH!!" suara mba-mba cina berbaju hijau memecah keheningan, mungkin juga lampu dalem lift, saking kencang teriakannya.
Kita barisan depan yang tidak mengerti hanya menoleh pelan, dan mendapatkan Ninit mengatupkan kedua tangannya memohon maaf ke mba-mba tadi.
"Aduh maaf mba sakit ya? Aduh, mana bakiak lagi sendalnya. . " mba-mba yang tadi keinjek cuma berpegangan lemas sambil menutup wajah di balik pundak teman sebelahnya, sambil terus merintih kesakitan.
Alih-alih ikut prihatin ke Ninit, gue malah buat pasukan PGKN [Pura-pura Gak Kenal Ninit] dan merapatkan barisan ke depan pintu Lift.
Ninit menatap kejam.
puas tertawa, kita mulai memikirkan ke mana setelah ini. Akhirnya pilihan jatuh ke Sky Lounge.
"Siapa yang belom pernah ke sini??"
dan Benazio pasrah mengangkat tangan.
Lagi-lagi dalam Lift terjadi sesuatu yang lucu. Terdengar suara ringtone handphone arabik-klasik.
Tung kerungtung tung tung. Kita lirik-lirikan menduga-duga siapa pemilik dari bunyi itu? Setelah 5 menit dan orang-orang udah pada keluar, kita pun tersadar.
"Gue pikir itu bunyi HP Arif, taunya emang bunyi musik di Liftnya." celoteh Ridu
"Enak aja." bantah Arif.
"Gue hampir nyuruh rijek aja, dari pada ganggu." sambung gue.
Dan kita menertawai kebodohan masing-masing.
Sky Lounge kami datang. Kita foto-foto lagi. Disaat semua terpana melihat indahnya Jakarta malam hari dari atas, gue mulai menarik kata, merangkai, menimbang. Ternyata, malam ini, setelah hampir beberapa tahun silam, malam ini adalah malam terbanyak dimana gue mengeluarkan tawa secara lepas. Thanks teman-teman.
Beruntungnya daku kenal kalian.Angin malam berhembus lebut, dan inilah kami. Berdiri menghadap langit, berpamitan untuk mengakhiri perjalanan hari ini

***
berhubung besok lebaran,
SELAMAT IDUL FITRI
MAAF LAHIR BATIN

